Adat Gayo Perlu Diselamatkan

Ketua MAA

Takengon-Ketua Majlis Adat Aceh Takengon Mustafa AK didampingi Sekretaris MAA, Ir.Yusin Saleh, Selasa (11/11), mengatakan bahwa adapt gayo saat ini sudah berada pada kondisi yang sangat menguatirkan.

Menurut kedua ahli adat gayo ini, akibat perubahan jaman, adat gayo sudah terdegradasi hingga tinggal nama, tanpa aplikasi. Untuk MAA Aceh Tengah disebut Mango (majlis Adat Gayo Negeri Gayo).

Perubahan Adat gayo, menurut Mustafa disebabkan karena adanya percampuran. Percampuran bisa karena interaksi social dan juga budaya. Akibat masyarakat gayo terlalu toleran telah menyebabkan adapt dan bahasa gayo tidak lagi dipakai dan digantikan budaya luar gayo yang masuk.

“Tahun 1951 kebawah, rumah tangga di gayo masih menggunakan bahasa gayo. Tapi sekarang sudah digantikan bahasa Indonesia”, kata Mustafa. Akibatnya, anak-anak generasi gayo sekarang tidak bisa lagi berbahasa gayo sehingga harus diajar berbahasa gayo di sekolah dalam pelajaran Mulok (muatan local).

Sebelum jaman kemerdekaan, dikatakan keduah ahli adat ini, saat mereka sekolah dijaman paska kemerdekaan, karena medok memakai bahasa gayo, oleh guru diwajibkan setiap hari selama satu jam mengarang kegiatan sehari-hari dirumah dalam bahasa Indonesia.

“Waktu itu susah rasanya menceritakan kegiatan sehari-hari kedalam bahasa Indonesia. Sehingga setiap siswa sering menggunakan kata lalu sampai berkali-kali”, kata Yusin saleh mengenang sambil tertawa.

Guna menyelamatkan adat dan budaya gayo yang sudah tidak dipakai masyarakat gayo lagi saat ini, menurut Mango Aceh Tengah tidak perlu menyalahkan siapapun lagi tapi harus bertindak dan tidak bisa lagi hanya berorasi.

“Penyelamatan adapt gayo harus dimulai dari rumah tangga dan sekolah”, tegas Mustafa dan pihaknya sudah tiga kali merekomendasikan pembelajaran adat gayo di sekolah.

Bahasa gayo semakin langka menurut Yusin ditandai dengan semakin banyaknya kosa kata gayo yang tidak lagi diucapkan. “Tutur kata bahasa gayo yang halus sudah langka”, sebut Yusin.

Dikatakan Yusin, kosa kata gayo sesungguhnya punya awalan dan akhiran dan jumlah abjad bahasa gayo mencapai 21. Yusin saat ini sedang mencoba menulis kosa kata gayo agar bisa dijadikan standar baku dengan terlebih dahulu menyeminarkannya.

Dalam kaidah bahasa gayo, rinci Yusin, semua hal punya nama sendiri. Satu nama tidak bisa dipakai untuk nama lain, karena akan salah dan berubah makna. Yusin mencontohkan untuk sebutan sebatang pohon dalam bahasa gayo punya nama sendiri.

Kayu yang mati disebut pempongen. Kayu yang sudah rebah disebut atang dan kayu yang sudah dipotong-potong disebut geris. Demikian halnya penggunaan kata mangan, berarti makan nasi. Mungus berarti makan tebu dan mangas bermakna makan sisirh.

Adat gayo, menurut Mustafa AK, dari 414 suku di Indonesia, adapt gayo masuk kedalam 19 suku di Indoensia yang diakui secara nasional karena memiliki adapt, budaya dan bahasa sendiri.

Bahkan, kata Mustafa, dalam sejarah Kerajaan Islam Linge yang disebut semacam Undang-Undang Negeri Linge sudah ada aturan gayo berjumlah 45 pasal. Dalam dialog interaktif di radio Amanda tentang adat gayo, banyak mendapat tanggapan warga Takengon melalui sambungan telepon.

Para penanya meminta agar sejarah dan legenda gayo kembali dibukukan agar generasi muda gayo tidak kehilangan identitas. Bahkan seorang warga menyatakan sudah sejak lima tahun lalu mencari buku sejarah Kerajaan Islam Linge yang hingga kini tidak ditemukannya.

Dalam interaktif yang dipandu Devi dari Radio Amanda dan pembanding Ashaf dari wartawan harian di Aceh, juga dipertanyakan asal usul orang gayo yang masih gelap secara ilmiah meski menurut dongeng turun temurun berasal dari negeri Rum, India Belakang atau bahkan dari Campa.

Berdasarkan pengakuan sorang WNI keturunan Tionghoa di Takengon, ujat Yusin Saleh, ada sebuah suku di China yang juga menggunakan bahasa gayo dalam keseharian mereka. Demikian juga adapt dan budayanya tidak jauh berbeda. MAA berharap bisa melihat suku yang mirip budaya gayo ini guna mengetahui sejarah gayo (ashaf)

1 comment  Tagged:  , November 12, 2008

Tutur Dan Keharmonisan

Tutur Dan Keharmonisan Masyarakat Gayo

Takengon, 11 Nopember 2008

OLEH : H. MUSTAFA, AK

Menghimpun dari beberapa tulisan atau ucapan lisan dari para tokoh adat atau orang-orang tua maka tutur dapat diartikan sebagai penempatan panggilan yang terkait dengan kedudukan, umur, aliran darah, kekeluargaan dan persaudaraan. Dalam adat Gayo masalah tutur berada dalam posisi terhormat, artinya apabila seorang yang tidak bertutur atau bertutur tidak dengan semestinya maka yang bersangkutan tergolong orang yang tidak berahlakulkharimah. Dengan demikian dari tutur kita dapat mengukur keperibadiaanya, kesombongan, keangkuhan yang tercermin pada diri seseorang tersebut.

Dari penjelasan di atas tutur yang merupakan jalur penghubung untuk menguatkan ikatan kekerabatan dalam suatu keluarga, kampung, dan lain sebagainya. Menurut para tokoh-tokoh adat ; bahwa kunci adat Gayo adalah tutur bahasa Gayo, apabila tutur ini tidak di terapkan, baik dalam kehidupan keluarga maupun kehidupan masyarakat, maka adat gayo tidak dapat dikembalikan kepada zaman para leluhur kita. Dalam memanggil bapak atau ibu harus dekembalikan kepada tutur bahasa Gayo yaitu “ Ama “ dan “ Ine “ ( bapak atau ibu ), juga seperti “ paman ” harus dikembalikan kepada “ Pun ” karena kedudukan “ Pun “ menurut tutur adat Gayo sangat mulia dan dihormati. Diantara dari sejumlah tutur yang terdapat dalam masyarakat Gayo adalah sebagaimana tersebut di bawah ini :

63 TUTUR DALAM BAHASA GAYO :

1. Rekel : Generasi paling tua
2. Entah : Turunan dari Rekel
3. Muyang : Moyang, di bawah Entah
4. Datu : Para datu-datu adalah di bawah moyang (1 s/d 4, sudah termasuk leluhur)
5. Datu Rawan : Oarng tua ( bapak dari kakek )
6. Datu Banan : Orang tua ( Ibu dari kakek )
7. Awan Pedih : Kakek ( bapak dari ayah )
8. Anan Pedih : Nenek ( ibu dari ayah )
9. Awan Alik : Kakek ( bapak dari ibu )

10. Anan Alik : Nenek ( ibu dari ibu )
11. Uwe : Kakak tertua dari ibu kandung
12. Ama Kul : Bapak Wo ( saudara laki-laki sulung dari bapak )
13. Ine Kul : Mak Wo ( istri dari Pak Wo/ istri abang tertua dari bapak )
14. Ama : Bapak
15. Ine : Ibu
16. Ama Engah : Bapak Engah ( tengah ), adik dari ayah
17. Ine Engah : Ibu Engah ( tengah ), adik dari ibu
18. Ama Ecek/Ucak : Pakcik ( saudara laki-laki bungsu dari bapak )
19. Ine Ecek/Ucak : Makcik
20. Encu : Ucu ( terbunsu ) laki-laki
21. Encu : Ucu ( terbungsu ) perempuan
22. Ibi : Bibi ( adik atau kakak kandung ayah )
23. Kil : Suami dari bibi, apabila bibi ikut suami. ( juelen )
24. Ngah/Encu : Perobahan Kil menjadi Engah atau encu apabila ikut istri ( angkap )
25. Abang : Abang
26. Aka : Kakak
27. Engi : Adik
28. Anak : Anak
29. Ume : Bisan
30. Empurah : Mertua ( orang tua dari istri )
31. Tuen : Mertua ( bapak dari istri )
32. Inen Tue : Mertua ( ibu dari istri )
33. Lakun : Sebutan sesama ipar
34. Inen Duwe : Istri abang dengan istri adiknya abang
35. Kawe : Istri abang dengan saudara perempuan dari suaminya
36. Era : Adik laki-laki dari abang dengan istri abang yang bersangkutan
37. Temude : Abang dari istri
38. Impel : Anak bibi yang kawin juelen dengan anak dari saudara laki-lakinya (anak saudara perempuan dari ibu )
39. Kumpu : Cucu
40. Piut : Cicit
41. Ungel : Anak semata wayang ( tunggal )
42. Aman Nuwin : Putra pertamanya laki-laki ( untuk bapak )
43. Inen Nuwin : Putra pertamanya laki-laki ( untuk ibu )
44. Aman Nipak : Putra pertamanya perempuan ( untuk bapak )
45. Inen Nipak : Putra pertamanya perempuan ( untuk ibu )
46. Aman Mayak : Remaja ( Laki-laki yang telah menikah dan belum berketurunan )
47. Inen Mayak : Remaja ( Putri yang menikah dan belum berketurunan )
48. Empun : Perubahan panggilan dari posisi kakek ( awan ) menjadi Empun dengan memanfaatkan salah satu nama cucu.
49. Win : Panggilan untuk anak laki-laki
50. Ipak : Panggilan untuk anak perempuan
51. Periben : Karena nama bersamaan atau sesama suami dari istri yang bersaudara kandung
52. Utih, Mok, Item, Ecek, Ucak, Onot : Panggilan kesayangan sementara nama yang bersangkutan bukan itu. Panggilan tersebut boleh jadi karena warna kulit, raut wajah, bentuk badan.
53. Serinen : Satu saudara kandung baik laki-laki maupun perempuan
54. Biak : Kenalan yang sudah dipandang sebagai saudara
55. Dengan : Saudara laki-laki dengan saudara perempuannya ( kandung )
56. Pun : Saudara laki-laki dari ibu
57. Ine Pun : Istri dari saudara laki-laki dari ibu
58. Pun Kul : Abang kandung yang sulung dari ibu
59. Pun Lah : Abang kandung ibu antara sulung dengan yang bungsu
60. Pun Ucak : Abang kandung ibu yang bungsu
61. Kile : Menantu laki-laki
62. Pemen : Menantu Perempuan
63. Until : Anak saudara kandung perempuan

Dengan memahami 63 tutur bahasa Gayo di atas kiranya telah mewakili dari semua tutur yang ada yang tidak tertera dalam tulisan ini. Betapa tidak, anatara tutur diatas saling terkait sehingga kita dengan jelas mengetahui siapa kita dalam kekeluargaan. Dengan demikian maka ahlakulkharimah akan terbawa dengan sendirinya karena kita tau hubungan kekeluargaan, persaudaraan dan sebagainya yang pada gilirannya secara tidak langsung tercipta keharmonisan di dalam kekeluargaan. Lebih jauh keharmonisan dalam keluarga, kelompok, suku (belah), kampung, akhirnya bermuara pada Bhinneka Tunggal Ika (bersatu kita teguh bercerai kita runtuh). Kalaulah penempatan tutur di hayati dan dilaksanakan dengan baik maka tidak akan terjadi perselisihan di antara kita karena anjuran atau nasehat dari orang tua di hormati oleh orang muda atau sebaliknya orang, orang muda merasa di sayangi oleh orang tua.

Catatan : “ Sara urang ( belah ) sara kemalun “
“ Sara kampung sara kekemelen “

Sumber: Gayolinge.com

1 comment November 12, 2008

Bahasa Gayo Diperkirakan Punah

Bahasa Akan Hilang Tahun 2010, Hati-Hati Urang Gayo
Urang Gayo Harus Cepat Bertindak , Bila Tidak Tahun 2010
Bahasa Gayo Diperkirakan Punah
.
Takengon-Bahasa Gayo merupakan salah satu bahasa yang dipakai di Aceh. Meskimerupakan bagian dari Aceh, namun bahasa gayo berbeda dengan bahasa
Aceh. Bahasa gayo dipakai oleh minoritas penduduk Gayo yang tinggal di
pedalaman Aceh, khususnya kawasan pegunungan .
Seperti gayo Lut
(Takengon-Bener Meriah), Gayo Deret (Lukup Serbejadi –Aceh Timur), Gayo
Lues (Blang Kejeren) serta di beberapa lokasi lainnya di Aceh yang
tersebar. Diantaranya, Lhok Gayo di Aceh Selatan dan sejumlah daerah
lainnya.
“Bahasa gayo pada tahun 2016 diperkirakan akan hilang”,
tegas M.Jihad, seorang warga Kecamatan Bintang, dalam acara sharing
dengan penulis tata bahasa gayo, ( A grammar of gayo, a language of
Aceh, Sumatera) yang dikarang Dr.Domenyk Eades.BA (Hons) Ph D (Melb) ,
Asistent Professor, Lecturer in Linguitic and Translation Studies.
College of Arts and Social Sciences, Sultan Qaboss University, Jum’at
malam (11/7) di Gedung Bale Pendari yang digagas Teater reje Linge.
Dihadiri oleh seniman, budayawan, mahasiswa dan tokoh masyarakat
Alasan
M.Jihad dilatari beberapa alasan. Diantaranya , tidak konsistennya
mayarakat suku gayo memakai bahasa gayo dalam komunikasi sehari-hari
dan lebih suka memakai bahasa Nasional Indonesia dan terlalu toleran.
Selain itu , peran Pemerintah seperti Pemkab dan DPRK juga tidak ada
dalam melestarikan bahasa gayo, yang ditandai dengan kebijakan atau
qanun.
Itupula yang menjadikan Domenyk Eades yang kini namanya sudah
berganti dengan Yusuf setelah mengucapkan duakalimah syahadat.
Diterangkan Domenyk, bapak tiga anak yang kini menjadi Asisten Profesor
di Universitas Sultan Qaboos Oman, awalnya Yusuf datang ke Aceh
mengajar bahasa Inggris dan mengambil S-1nya tentang bahasa Aceh dan
S-3, tentang bahasa Gayo.
“Minimnya literature tentang gayo membuat
saya tertarik mempelajari bahasa Gayo”, ujar Yusuf dihadapan puluhan
peserta tidak resmi malam itu. Guna melestarikan bahasa gayo, menurut
Yusuf, saat ini perlu ditulis buku dalam bahasa Gayo dan kembali
menuliskan dongeng, sejarah dan budaya dari nara sumber yang masih
hidup, bila tidak ingin bahasa gayo hilang.
“Begitu banyak sudah
bahasa hilang di dunia. Akankah bahasa gayo juga demikian”, Tanya Yusuf
pada Zulfikar Ahmad ST , staf Bappeda yang mendampingi Yusuf dalam
bahasa Inggris.
Kembali ke M.Jihad yang mengkuatirkan hilangnya
bahasa gayo dari bahasa di dunia. Menurut Jihad, bahasa gayo adalah
asset atau harta yang kaya akan kosa kata. “Bahasa gayo kaya nama”,
ujar Jihad sambil mencontohkan, satu kata bahasa Indonesia untuk duduk
saja, dalam bahasa gayo ada tiga padanan. Yaitu, kunul, tempoh,semile.
Menurut
M.Jihad meski tidak diundang dalam acara tersebut, namun dia sengaja
hadir setelah mengetahui acara tersebut dari orang lain karena
dianggapnya penting. Bahkan lebih esktrim, dikatakan Jihad, sebelum
Rasulullah SAW lahir, tutur bahasa gayo yang lebih dikenal dengan
sebutan “peri berabun”, sudah ada.
Meski sudah 10 tahun lalu Domenyk
melakukan penelitian tentang bahasa gayo, namun dalam acara tidak resmi
membahas buku tata bahasa gayo karya Domenyk alias Yusuf, disepakati
dengan bahasa gayo.
Dalam diskusi berbahasa gayo tersebut, tenyata
banyak kalangan mahasiswa dan para hadirin yang justru kesulitan
berbahasa gayo secara penuh dan masih mencampurnya dengan bahasa
Indonesia . “Ini suatu bukti dan argument, sudah banyak kosa kata
bahasa gayo yang tidak lagi digunakan dan cenderung hilang”, papar
M.Jihad.
Menurut Domernyk, sejak melakukan penelitian sepuluh tahun
silam, sudah ada masyarakat gayo yang tidak lagi peduli akan budaya ,
bahasa dan sejarah gayo karena dianggap tidak berfaedah.
“Kalau
bahasa gayo hilang, maka identitas gayo juga akan hilang.Masyarakat
gayo akan kehilangan identitas”, tegas Domenyk. Untuk itu, karena
bahasa adalah identitas, mulai sekarang, lanjut Domenyk orang gayo
mulai sekarang harus ajarkan anak-anak generasi gayo berbahasa gayo dan
mulai mengajarkan budaya gayo.
“Buku dalam bahasa gayo bisa mendidik
anak-anak gayo untuk tidak kehilangan jatidirinya”, papar Domenyk.
Kini, dengan bukunya Yusuf, A grammar of gayo, a language of Aceh,
Sumatera, bahasa gayo sudah dipelajari di sebuah universitas di Jerman
dalam program Linguistic.
Yusradi Algayoni, salah seorang mahasiswa
terbaik USU versi Sampoerna yang kini sudah menyelesaikan Biografi
seniman terkenal gayo, Drs.AR Moese, menjelaskan dia pernah
mengumpulkan 60 koleksi buku tentang gayo dan sekarang sedang membuat
kamus bahasa gayo yang dikumpulkannya berjumlah 6670 kata.
Yusradi
meminta agar buku Domenyk tentang tata bahasa gayo diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia . Namun menurut Domenyk, hal itu harus diminta
ijinnya dengan penerbit yang menangani bukunya.
Kebanyakan para
mahasiswa dan peserta yang hadir merasa malu karena bahasa gayo
diteliti bukan oleh masyarakat gayo, tapi justru diteliti oleh orang
luar seperti Domenyk.
Zamzam Mubarak, seorang mahasiswa gayo di
Jakarta , mempertanyakan asal muasal bahasa gayo karena gayo dianggap
mempunyai sebuah peradaban yang besar. Menurut Domenyk, bahasa gayo
masuk dalam kelompok Austronesia . Bahasa gayo berhubungan dengan
bahasa Nias, Mentawai dan Bahasa Batak.
Iwan Bahgie, penyelenggara
acara sharing dengan Domenyk menyatakan bahwa acara digelar demi
melestarikan bahasa gayo. “Setelah mendapat informasi dari Zulfikar
Ahmad tentang kehadiran Domenyk bersama keluarganya di Takengon dalam
rangka liburan, kami ditawari menjadi pasilitator”, ungkap Iwan.
Di
tempat terpisah, Yuhdi Saffuan, alumni Universitas Indonesia yang kini
menetap di Takengon, menyatakan, Almarhum, Prof. Yunus Melalatoa,
pernah menyatakan dalam sebuah forum mahasiswa gayo se Indonesia di
Yogyakarta tahun 2002 bahwa bahasa gayo termasuk salah satu bahasa yang
akan hilang karena dipengaruhi budaya dan bahasa luar.
“Menurut
Prof. Yunus Melalatoa, diperkirakan tahun 2010 keatas bahasa gayo telah
sampai pada titik kritis. Salah satu contohnya jika bertanya pada
anak-anak masyarakat Gayo yang berada di perkampungan, sebutan Ama
untuk panggilan Bapak, sudah tidak lagi diketahui anak-anak lagi”,
ungkap Yuhdi menirukan kekuatiran Prof. Yunus Melalatoa, seorang
Antropolog UI.
Dikatakan Yuhdi Saffuan, apa yang diramalkan Prof.
Melalatoa kini sudah terbukti. Hal ini didasarkan pada fakta saat ini,
lanjut Yuhdi, anak-anak sekolah dasar di Takengon sudah tidak bisa
berbahasa Gayo bahkan orang tuanya menyarankan anak-anak mereka
berbahasa Indonesia sehari-hari agar tidak malu bergaul bersama
temannya di sekolah.
“Bisa dibayangkan beberapa tahun kedepan,
bahasa gayo sudah tidak lagi popular dan tidak lagi digunakan di
Takengon dan akan dilupakan sejarah”, tegas Yuhdi. Setelah pembahasan
buku tata bahasa gayo digelar. Para mahasiswa dan masyarakat yang hadir
sepakat untuk mulai membahas dan mewacanakan upaya pelestarian bahasa
gayo dengan apa yang disebut semacam “Balai Bahasa Gayo” dan rutin
melakukan diskusi tentang bahasa. Diperlukan peran Pemerintah Daerah
saat ini untuk melestarikan bahasa gayo dengan lebih menguatkan bahasa
gayo dalam pendidikan, muatan local (www.rakyataceh,com/ashaf)

sumber: http://winbathin.multiply.com/photos/album/92/Dr._Domenyk_Aedes_Penulis_Tata_Bahasa_Gayo–Akankah_Basa_Gayo_Akan_Musnah

7 comments  Tagged:  July 14, 2008

Denang Gayo

Mukale Ken Tanoh Gayo?.

mmm.. dengerin aja siaran RRI Pro 4 FM
Jakarta (Gelombang FM 9,28 MHz / MW 1332 KHz / SW 1680 KHz)

ara acara Denang Gayo:

TANOH TEMBUNI

Tiap Sabtu Pukul 11.30 - 13.00 WIB

dan

DENANG TANOH GAYO


Tiap Kamis Pukul 19.30-20.
00 WIB

(siaran ini juga diteruskan oleh Radio
Amanda di Takengon dan Lhokseumawe)

nti lupen boh………

2 comments  Tagged:  April 11, 2007


Archives

Calendar

August 2009
M T W T F S S
« Nov    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

No album exists or data is unavailable.

View all albums(0)

Categories

Recent Posts

Tags

Recent Comments

Feeds

Links